Prestasi Gemilang: Tim Bioteknologi Fakultas Ketahanan Pangan Unesa Sabet Gold Medal dan Juara Harapan 2 semua kategori pada Nasional NWF 5.0
Malang 11 April 2026 – Di tengah
krisis pangan global dan ancaman perubahan iklim, lima mahasiswa Program Studi
Bioteknologi, Fakultas Ketahanan Pangan, Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
berhasil menciptakan terobosan yang tidak hanya memenangkan kompetisi nasional,
tetapi juga menjawab tantangan kemanusiaan dunia. Di bawah bimbingan Bapak Muchamad Imam Asrori, S.T.P., M.Sc., Ph.D.,
tim Bi-PEST ini meraih Gold Medal untuk sub tema Pertanian
kategori mahasiswa sekaligus Juara Harapan 2 Nasional untuk seluruh
kategori dalam ajang Nusantara Writing Festival (NWF) 5.0 tahun 2026. Mereka adalah
Milza Wildan Alfattah
Romadhon, M. Faiq Athallah Adriawan Putra, Afidatul Alfi Musholina Firdani, Az
Zahra Aulia Eka Putri, dan Marwaa Mahirah Andraluna.
Karya yang diusung
berjudul Bi-PEST (Biopesticide based on Plant Extract Synergistic
Technology), sebuah biopestisida nabati yang memanfaatkan ekstrak daun
kirinyuh, daun ketapang, dan daun sirsak. Ketiga bahan alami ini dipadukan
dengan teknologi sinergis sehingga efektif mengendalikan hama tanaman tanpa
merusak lingkungan. Yang membuat inovasi ini penting di era sekarang adalah
kontribusinya terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDG's).
Setidaknya ada empat poin SDG's yang secara langsung mendapat dampak dari
keberadaan Bi-PEST.
1.
Pertama, SDG's 2 (Tanpa Kelaparan).
Dengan membantu petani mengendalikan hama secara alami, produktivitas tanaman
meningkat dan ketahanan pangan terjaga.
2.
Kedua, SDG's 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera).
Biopestisida ini tidak mengandung bahan kimia beracun, sehingga aman bagi
kesehatan petani dan konsumen.
3.
Ketiga, SDG's 12 (Konsumsi dan Produksi yang
Bertanggung Jawab). Bi-PEST menggunakan bahan baku lokal yang
terbarukan dan tidak menghasilkan residu berbahaya bagi tanah dan air.
4.
Keempat, SDG's 15 (Ekosistem Daratan).
Dengan mengurangi penggunaan pestisida kimia, keanekaragaman hayati seperti
serangga penyerbuk dan mikroorganisme tanah tetap terjaga.
Ketua tim, Milza
Wildan, melihat realita bahwa petani di berbagai daerah yang terus bergantung
pada pestisida kimia. "Mereka tahu itu berbahaya, tapi tidak punya
alternatif yang terjangkau. Kami ingin Bi-PEST menjadi jawaban," ujarnya. Data
dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat bahwa setiap tahun
dunia menggunakan lebih dari 4 juta ton pestisida kimia. Dampaknya tidak hanya
merusak lingkungan, tetapi juga membunuh serangga bermanfaat dan menyebabkan
resistensi hama. Inovasi seperti Bi-PEST menjadi sangat relevan di tengah
situasi ini.
Lebih jauh, Bi-PEST
juga berpotensi diterapkan di negara-negara agraris lainnya seperti India,
Brasil, dan negara-negara di Afrika. Karena bahan bakunya berasal dari tanaman
tropis yang banyak tumbuh di kawasan tersebut, inovasi ini bisa menjadi model
untuk pertanian ramah lingkungan skala global. Ke depan, tim Bi-PEST berencana
melanjutkan riset ke tahap uji coba lapangan yang lebih luas. Mereka juga
sedang menyusun buku panduan sederhana agar petani bisa membuat biopestisida
ini secara mandiri.
Kami segenap Civitas Akademika Prodi Bioteknologi Fakultas Ketahanan Pangan, mengucapkan selamat atas diraihnya prestasi membanggakan bagi Prodi, Fakultas dan Universitas. Semoga kedepan akan semakin banyak lagi mahasiswa berprestasi lahir dengan ide yang inovatif.