Mengungkap Kode Genetik Antioksidan pada Padi Berwarna: Langkah Menuju Pangan Fungsional Masa
Bayangkan menanam padi
yang bukan hanya kaya karbohidrat, tetapi juga kaya antioksidan — seperti
flavonoid dan antosianin — yang selama ini dikenal baik untuk kesehatan
manusia. Salah satu dosen Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang tengah
menempuh studi doktoral di Chulalongkorn University, Thailand,
berhasil mempublikasikan penelitian terbarunya di jurnal bereputasi
internasional Scientific Reports. Temuan ini membuka pintu bagi varietas padi
generasi baru — bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga
nutrisi.
Lahan
pertanian di Asia sering dipenuhi varietas padi putih — karena produktivitasnya
sudah teruji. Namun, varietas padi berwarna (merah atau hitam) ternyata
menyimpan kekayaan biologis yang lebih: kandungan antioksidan yang jauh lebih
tinggi. Dalam studi yang dimuat di Scientific
Reports, para peneliti mengevaluasi 233 varietas
padi lokal Thailand, mengukur lima parameter antioksidan utama: ABTS, DPPH,
FRAP, flavonoid total (TFC), dan fenolik total (TPC). Mereka menemukan
perbedaan mencolok: varietas putih memiliki antioksidan paling rendah,
sementara varietas merah/hitam berada jauh di atasnya.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa varietas berwarna
memiliki aktivitas antioksidan jauh lebih tinggi dibanding varietas putih. Analisis genom kemudian menemukan lebih
dari 119 ribu varian genetik (SNP), dan dari sana teridentifikasi Tiga
gen utama yang berperan besar dalam regulasi
antioksidan, yaitu OsRc, OsRa dan OsTT8.
Ketiga gen tersebut mengontrol pembentukan pigmen antosianin, yang tidak hanya
memberikan warna merah atau hitam pada biji padi, tetapi juga meningkatkan
aktivitas antioksidan di dalamnya. Tim peneliti juga berhasil mengembangkan penanda genetik (molecular marker) untuk membantu pemulia tanaman memilih varietas padi dengan kandungan
antioksidan tinggi lebih cepat dan efisien.
Lebih
menarik lagi: peneliti mengembangkan dua penanda genetik yang bisa digunakan
dalam program pemuliaan — yakni untuk gen OsTT8 dan promoter OsRc.
Dengan alat ini, pemulia bisa memilih varietas padi yang diprediksi kaya
antioksidan jauh sebelum panen.
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa padi bukan sekadar sumber karbohidrat —
varietas padi pigmen bisa menjadi superfood yang mendukung kesehatan manusia. Bagi Indonesia dan negara tropis
lainnya, ini adalah peluang penting: dengan varietas padi berwarna dan
kandungan antioksidan tinggi, petani bisa menawarkan produk bernilai tambah,
konsumen bisa mendapatkan manfaat kesehatan, dan pemulia bisa mempercepat
inovasi varietas. Langkah selanjutnya? Memastikan gen-penentu ini bekerja baik
di varietas-lokal Indonesia dan lingkungan sawah kita.
Penemuan ini membuka peluang baru dalam pengembangan pangan fungsional, yaitu bahan
pangan yang tidak hanya memberi energi, tetapi juga meningkatkan kualitas
kesehatan. Selain itu, hasil riset ini menegaskan bahwa varietas padi lokal tradisional
memiliki kekayaan genetik yang sangat berharga dan layak dikembangkan lebih
lanjut.
Ke depan, riset ini akan diarahkan untuk menguji gen-gen
tersebut pada varietas padi lokal
Indonesia, sehingga manfaatnya dapat
diterapkan langsung dalam program pemuliaan nasional untuk menghasilkan padi sehat, bergizi, dan adaptif terhadap lingkungan tropis.
Sumber
:
Purnama, P.R., Suwanchaikasem, P.,
Junbuathong, S. et al. Uncovering genetic determinants of
antioxidant properties in Thai landrace rice through genome-wide association
analysis. Sci Rep 15, 1443 (2025). https://doi.org/10.1038/s41598-024-83926-y