BiotechTalk7# Inovasi Pikel Bawang Putih Tunggal Fermentasi: Terobosan Baru Pangan Fungsional Antidiabetes dari UNESA
SURABAYA, 20 Juni 2026 – Diabetes melitus masih
menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang terus meningkat setiap
tahunnya. Berdasarkan data terbaru, Indonesia menempati peringkat ke-4 negara
dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia dengan 21,3 juta jiwa terancam
menderita diabetes pada tahun 2030. Menyikapi kondisi tersebut, Prof. Dr. Prima
Retno Wikandari dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menghadirkan inovasi
menjanjikan melalui pengembangan pikel bawang putih tunggal fermentasi sebagai
kandidat pangan fungsional antidiabetes.
A.
Bawang Putih Tunggal Fermentasi:
Solusi Sinbiotik Alami
Dalam Biotech Talk Series 7 yang diselenggarakan pada
Sabtu, 20 Juni 2026, Prof. Prima memaparkan hasil risetnya mengenai Fermented
Single Bulb Garlic (FSBG) atau bawang putih tunggal fermentasi. Produk
ini dikembangkan melalui fermentasi bawang putih tunggal menggunakan bakteri
probiotik Lactobacillus plantarum B1765 dan inulin sebagai
prebiotik.
"Fermentasi menjadi kunci utama dalam meningkatkan nilai fungsional
bawang putih," jelas Prof. Prima. "Proses ini tidak hanya mengurangi
aroma tajam bawang putih segar yang sering menjadi kendala konsumsi, tetapi
juga meningkatkan kandungan senyawa fenolik, memproduksi metabolit baru, serta
meningkatkan aktivitas antioksidan."
B.
Mekanisme Antidiabetes yang
Multidimensional
Hasil penelitian yang telah melalui pengujian in vitro dan in
vivo pada hewan model diabetes menunjukkan bahwa FSBG bekerja melalui
berbagai mekanisme secara simultan. Produk ini mampu menghambat enzim
pencernaan karbohidrat seperti α-amilase dan α-glukosidase, sehingga
memperlambat pemecahan karbohidrat menjadi glukosa dan menurunkan lonjakan gula
darah setelah makan.
Lebih lanjut, FSBG terbukti mampu meningkatkan sensitivitas insulin
melalui peningkatan aktivitas transporter glukosa GLUT4, serta memberikan efek
antiinflamasi dengan menghambat jalur pensinyalan inflamasi TLR4, IRAK1, STK4,
dan NF-κB. Hal ini berdampak pada penurunan sitokin proinflamasi IL-1β, IL-6,
dan TNF-α. Yang menarik, FSBG juga
menunjukkan kemampuannya dalam memodulasi mikrobiota usus, meningkatkan
produksi hormon inkretin GLP-1 dan PYY, serta meningkatkan pembentukan short-chain
fatty acids (SCFAs) yang berkontribusi pada perbaikan metabolisme
glukosa dan kesehatan saluran pencernaan.
C.
Efektivitas Setara Metformin
Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah efektivitas FSBG
yang setara bahkan lebih baik dibandingkan metformin—obat standar diabetes tipe
2—pada beberapa parameter. FSBG mampu menurunkan kadar glukosa darah,
memperbaiki fungsi ginjal, mengurangi stres oksidatif, meningkatkan jumlah sel
β pankreas, serta memberikan efek antiinflamasi dan antiglukoneogenik. Roadmap Penelitian Menuju Komersialisasi Penelitian ini
memiliki roadmap jangka panjang yang sistematis mulai dari penelitian dasar
hingga hilirisasi produk. Tahap awal (2020) berfokus pada pengembangan proses
fermentasi dan uji antioksidan, dilanjutkan dengan identifikasi mekanisme
antidiabetes (2022), pengujian in vivo (2023-2024), penelitian
terapan (2025-2027), hingga tahap pengembangan dan komersialisasi (2028-2030).
D.
Keamanan dan Potensi Pencegahan
Menjawab pertanyaan Vivi Valentina mengenai keamanan konsumsi bagi orang
sehat sebagai upaya pencegahan, Prof. Prima menjelaskan bahwa pengujian pada
tikus sehat menunjukkan FSBG tidak berpengaruh pada kadar gula darah dalam
jangka pendek. Namun demikian, studi jangka panjang masih diperlukan.
E.
Tantangan dan Penelitian
Lanjutan
Meskipun menjanjikan, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu
diatasi, termasuk standardisasi proses fermentasi, penentuan dosis efektif, uji
toksisitas jangka panjang, serta uji klinis pada manusia yang saat ini sedang
dalam tahap perencanaan bersama tim dari Fakultas Kedokteran. Identifikasi
metabolit aktif dan pemahaman mekanisme molekuler yang lebih mendalam juga
menjadi agenda penelitian ke depan.
F.
Kebaruan dan Signifikansi
Penelitian ini memiliki beberapa aspek kebaruan, termasuk pemanfaatan
bawang putih tunggal fermentasi sebagai produk sinbiotik, penggunaan L.
plantarum B1765 sebagai kultur starter lokal, serta integrasi
pendekatan pangan fungsional dalam manajemen diabetes yang selama ini lebih
banyak mengandalkan obat-obatan.
"Dengan potensi besar yang dimiliki FSBG, kami optimis produk ini
dapat menjadi alternatif pangan fungsional yang mendukung pengelolaan diabetes
secara alami, preventif, dan berkelanjutan," pungkas Prof. Prima.
Inovasi ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development
Goals (SDGs), khususnya pada poin kesehatan yang baik, pertumbuhan ekonomi,
serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.