Biotech Research Talk Seri 8: Menggali Potensi Bioteknologi Modern dari Ekosistem Antartika hingga Kecerdasan Buatan
SURABAYA — Seminar daring Biotech Research Talk Seri 8 sukses diselenggarakan pada Sabtu, 11 Juli 2026, melalui platform Google Meet. Acara yang berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 11.30 WIB ini menghadirkan dua akademisi dan peneliti di bidang bioteknologi untuk memaparkan inovasi riset terkini, mulai dari pemanfaatan limbah pertanian berbasis zero-waste chemistry hingga integrasi bioinformatika dan Artificial Intelligence (AI) dalam ilmu biologi modern
Dari Ekspedisi Antartika hingga Inovasi Selulosa Limbah Pertanian
Pada sesi pertama, Dr. Indah Ardiningsih, S.Si., M.Sc. membawakan materi bertajuk "From the Pristine Southern Ocean to Zero-Waste Chemistry: An Agrowaste Cellulose Journey in Trace Metal Bioleaching, Biosorption, and Biosensing"
Beberapa poin utama yang disampaikan meliputi:
Keunikan Ekosistem Laut Selatan: Antartika memiliki ekosistem yang sangat alami (pristine) namun terbatas akan kandungan besi (Fe)
. Hal ini mendorong mikroorganisme fotosintetik (seperti alga) menggunakan iron-binding ligands untuk mengikat besi agar proses fotosintesis tetap berjalan optimal . Alga memiliki peran vital dalam menghasilkan oksigen ($O_2$) dan memperlambat laju perubahan iklim global . Ekstraksi Selulosa Enzimatik: Mengambil inspirasi dari siklus efisiensi alami Antartika, tim peneliti mengembangkan ekstraksi selulosa dari limbah pertanian menggunakan teknik enzimatik
. Metode ini lebih ramah lingkungan karena tidak memakai asam pekat dan meminimalisir penggunaan air pembilas . Aplikasi Zero-Waste & Ekonomi Sirkular: Selulosa hasil ekstraksi dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi komersial dan lingkungan, seperti bio-packaging, bahan deterjen ramah lingkungan, komposit biosorben ($NC-EPS$) untuk pengolahan limbah cair, hingga carbon quantum dots sebagai biosensor
. Selain itu, pendekatan bioleaching dikembangkan untuk memulihkan kembali logam dari baterai bekas .
Evolusi Biologi Modern: Integrasi Genomika dan Machine Learning
Sesi kedua dilanjutkan oleh Putut Rakhmad Purnama, S.Si., M.Si., Ph.D. dengan topik "Exploring Modern Biology: Integrating Molecular Biology, Genomics, and Artificial Intelligence"
Poin penting pemaparan Dr. Putut antara lain:
Perjalanan Riset: Diawali dari studi ekologi keanekaragaman hayati gastropoda di Taman Nasional Meru Betiri, berkembang ke fisiologi stres tanaman lamun (seagrass), hingga kajian molekuler, ekspresi gen, dan genomika
. Pentingnya Budaya Publikasi: Dr. Putut menekankan bahwa ilmu dasar adalah fondasi riset terapan
. Beliau mendorong pentingnya budaya publikasi sejak dini, termasuk mempublikasikan hasil riset Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa . Penerapan Bioinformatika dan AI: Penggunaan bioinformatika dan machine learning kini diterapkan langsung dalam riset ketahanan pangan dan pertanian, seperti:
Analisis morfologi dan clustering buah nangka lokal untuk mengidentifikasi fenotip unggul
. Karakterisasi terpadu ubi jalar secara molekuler dan anatomi
. Pemodelan prediksi berbasis machine learning untuk mengidentifikasi varietas padi yang tahan terhadap cekaman salinitas
.
Sesi Diskusi dan Tanya Jawab (Q&A)
Pada sesi diskusi, peserta dan pemateri membahas dua isu strategis dalam penerapan bioteknologi
Tantangan Industri: Komersialisasi riset bioteknologi di skala industri masih menghadapi kendala pada tingginya biaya produksi awal serta minimnya pihak perantara (bridging entity) yang menghubungkan inovasi akademis dengan kebutuhan pasar industri
. Peran AI: Teknologi AI sangat berpotensi mengakselerasi analisis genomika, salah satunya dalam memprediksi motif-motif spesifik pada sekuens DNA seperti motif promotor gen
.