Biotech Research Talk #6: Rekayasa Bioteknologi Produk Tropis dan Teknologi Enzim untuk Masa Depan Ketahanan Pangan & Kesehatan Manusia
Program Studi Bioteknologi – 29
Mei 2026
Program Studi Bioteknologi telah
menyelenggarakan kegiatan rutin Biotech Research Talk edisi keenam pada hari
Jumat, 29 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui platform
Zoom Meetings ini dilaksanakan mulai pukul 09.00 hingga 10.00 WIB. Acara ini
diikuti oleh 81 peserta yang terdiri atas mahasiswa Program Studi
Bioteknologi serta dosen.
Kegiatan Biotech Research Talk #6
mengangkat tema utama "Biotechnological Engineering of Tropical
Products towards Sustainable Food Security and Human Health" .
Tema ini dipilih sebagai respons terhadap potensi besar sumber daya hayati
tropis Indonesia yang belum tergarap secara optimal melalui pendekatan
bioteknologi modern, sekaligus sebagai wujud kontribusi Program Studi
Bioteknologi dalam upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable
Development Goals).
Pemaparan Pertama oleh Dr. Ratih Dewi Saputri, S.Si.,
M.Si.
Pembicara pertama yang hadir dalam kesempatan ini adalah Dr. Ratih Dewi Saputri, S.Si., M.Si. seorang peneliti dengan kompetensi utama di bidang rekayasa bioteknologi produk tropis. Dr. Ratih menyampaikan materi yang sejalan dengan tema besar kegiatan, dengan fokus pada pemanfaatan pendekatan bioteknologi untuk mengolah berbagai komoditas dan agroindustri tropis menjadi produk bernilai tambah tinggi. Lebih lanjut, Dr. Ratih menjelaskan bahwa pendekatan rekayasa bioteknologi yang dapat diterapkan meliputi sintesis senyawa bahan alam. Melalui pendekatan tersebut pemanfaatan tumbuhan tropis Indonesia dapat diolah menjadi berbagai produk strategis, di antaranya:
1.
Pangan
fungsional yang mengandung serat pangan dan senyawa antioksidan tinggi;
2. Produk biofortifikasi untuk peningkatan nilai gizi pangan pokok berbasis bahan lokal;
3. Senyawa bioaktif yang berpotensi untuk terapi penyakit metabolik seperti diabetes dan hiperkolesterolemia, serta penyakit infeksi tropis.
Di akhir sesi pertamanya, Dr. Ratih menekankan pentingnya penerapan pendekatan circular bioeconomy atau ekonomi hayati sirkular. Begitu besar manfaat dari tanaman indonesia yang bisa diaplikasikan dalam bidang kesehatan dan pangan. Mulai dari pemanfaatan untuk senyawa antioksidan, antibakteri sampai antikanker.
Pemaparan
Kedua oleh Shinta Wulansari, S.Si., M.Sc.
Pembicara
kedua yang menyampaikan materi pada kesempatan ini adalah Shinta Wulansari, S.Si., M.Sc.,
seorang pakar di bidang enzimologi dan biokatalisis. Ibu Shinta membawakan
materi berjudul "Enzyme
Technology: Current Trends and Future Research Directions".
Ia memulai pemaparannya dengan menyoroti bahwa teknologi enzim telah mengalami
perkembangan yang sangat pesat dalam dua dekade terakhir. Enzim tidak lagi
terbatas pada aplikasi konvensional dalam industri deterjen, makanan, dan
minuman, tetapi telah merambah ke berbagai sektor strategis.
Shinta
Wulansari menjelaskan beberapa tren terkini dalam teknologi enzim yang patut
menjadi perhatian para peneliti bioteknologi di Indonesia, antara lain:
1.
Penggunaan
enzim rekombinan untuk sintesis obat-obatan presisi, misalnya enzim yang
digunakan dalam produksi antidiabetes,
2. Aplikasi enzim dalam bioremediasi, khususnya enzim pendegradasi mikroplastik dan residu pestisida yang banyak mencemari lingkungan pertanian tropis;
3. Pemanfaatan
seluruh sel terimobilisasi (immobilized
whole cell) sebagai biokatalis untuk produksi bioetanol generasi
kedua dari biomassa lignoselulosa tropis.
Lebih
lanjut, Shinta Wulansari memaparkan arah riset teknologi enzim di masa depan
yang dinilai paling menjanjikan untuk dikembangkan di Indonesia:
Pertama, rekayasa enzim terarah (directed evolution). Metode ini memungkinkan peneliti untuk menghasilkan varian enzim dengan stabilitas yang lebih tinggi pada kondisi suhu dan pH ekstrem, suatu karakteristik yang sangat relevan dengan kondisi iklim tropis dan proses industri yang membutuhkan enzim tangguh.
Kedua, integrasi kecerdasan
buatan (artificial
intelligence/AI) dan machine
learning dalam teknologi enzim. Kedua pendekatan komputasi ini
dapat digunakan untuk memprediksi struktur dan fungsi enzim baru berdasarkan
data metagenomik yang berasal dari lingkungan tropis.
Ketiga, eksplorasi dan
karakterisasi selulase dan hemiselulase dari jamur mikroorganisme asli Indonesia.
Enzim-enzim ini memiliki potensi besar untuk menurunkan biaya produksi
bioetanol secara signifikan melalui hidrolisis biomassa lignoselulosa yang
lebih efisien.
Shinta dengan tegas menyampaikan bahwa saat ini merupakan momentum yang sangat tepat bagi para peneliti muda Indonesia untuk mendalami bidang enzimologi. Sebagai contoh praktis, Shinta Wulansari memaparkan pemanfaatan enzim bromelain yang diisolasi dari limbah batang nanas. Enzim tersebut dapat diimobilisasi dan digunakan untuk memproduksi hidrolisat protein yang berfungsi sebagai suplemen kesehatan. Kasus ini menunjukkan bahwa limbah agroindustri tropis tidak hanya dapat diolah secara fermentatif, tetapi juga menjadi sumber enzim alami yang bernilai ekonomi.