Belajar Bersama pakar Animal Biotechnology di Mata Kuliah Pengantar dan Etika Bioteknologi
SURABAYA, 18 September 2025 — Program Studi Biologi menyelenggarakan kuliah umum untuk mata kuliah Pengantar dan Etika Bioteknologi. Kegiatan ini menghadirkan Trifan Budi, Ph.D., peneliti post-doctoral dari King Mongkut's Institute of Technology Ladkrabang (KMITL), Thailand
Etika dan Penerapan Three Rs dalam Penelitian Hewan
Mengawali sesi, Trifan Budi menjelaskan peran penting hewan model—seperti mencit (white mouse) dan ikan zebra (zebrafish)—dalam memajukan bidang medis dan sains
Kendati demikian, penggunaan hewan dalam penelitian tetap terikat oleh aturan etika yang ketat. Trifan menekankan pentingnya penerapan prinsip Three Rs:
Reduce: Mengurangi jumlah penggunaan spesies tingkat tinggi (seperti primata, anjing, atau kucing).
Replace: Mengganti model hewan dengan metode alternatif bila memungkinkan.
Refine: Menyempurnakan prosedur eksperimen untuk meminimalkan rasa sakit dan memastikan kondisi yang paling manusiawi (humane conditions).
Perkembangan Rekayasa Genetik dan Kloning
Sesi dilanjutkan dengan ulasan mengenai sejarah dan perkembangan rekayasa genetik. Trifan memaparkan peristiwa kloning domba Dolly pada tahun 1996 sebagai tonggak sejarah penggunaan sel somatis untuk menghasilkan salinan genetik yang identik.
Selain kloning, teknologi transgenik dan penyuntingan gen (gene editing) seperti CRISPR-Cas kini membuka peluang baru. Contoh keberhasilan teknologi ini meliputi:
Bioreaktor Hewan (Biopharming): Pemanfaatan hewan ternak untuk menghasilkan protein medis atau antibodi monoklonal melalui susu atau telur.
Kandungan Nutrisi: Pengembangan sapi pembawa gen manusia untuk memproduksi plasma mirip manusia, sapi penghasil susu hipoalergenik, serta ayam genetik yang menghasilkan telur berkandungan protein tinggi dan rendah kolesterol.
Xenotransplantasi: Penelitian pembuatan organ manusia (seperti pankreas) pada tubuh babi menggunakan sel punca induced pluripotent stem cells (iPSCs).
Riset Adaptasi Iklim: Gen HSP dan ADSL pada Ayam Thailand
Pada bagian akhir paparan, Trifan membagikan hasil risetnya mengenai gen pembawa sifat tahan panas (thermotolerance) dan kualitas daging pada ayam lokal Thailand.
Di tengah tantangan pemanasan global, stres panas (thermal stress) menjadi ancaman bagi produktivitas peternakan. Riset Trifan menganalisis polimorfisme gen Heat Shock Protein (HSP70 dan HSP90) pada ayam lokal Thailand dan ayam hutan merah (red junglefowl). Hasil analisis menunjukkan adanya variasi alel spesifik (seperti alel mutasi missense pada ras ayam Lao Pa Koi) yang berperan penting dalam perlindungan seluler terhadap suhu tinggi.
Selain itu, riset pada gen ADSL (Adenylosuccinate lyase)—enzim yang berperan dalam biosintesis purin—menunjukkan bahwa alel pada ayam lokal Thailand terpisah secara filogenetik dari ras komersial dunia. Temuan ini berpotensi dijadikan penanda molekuler (molecular marker) untuk menyeleksi ayam yang memiliki adaptasi suhu tropis sekaligus kualitas rasa daging yang khas.
Melalui kuliah ini, para mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami sisi teknis rekayasa bioteknologi hewan, tetapi juga peka terhadap aspek etika, kesejahteraan hewan (animal welfare), serta penerapannya dalam menjawab tantangan perubahan iklim global.